Page 13 - Perpustakaan Lemhannas RI
P. 13

65

         Pengadilan HAM adalah mengadopsi dua tindak pidana yang dimuat
         dalam Statuta ICC, yakni genosida dan kejahatan terhadap
         kemanusiaan beserta unsur-unsurnya. Dalam Penjelasan Pasal 7
         UU Pengadilan HAM disebutkan bahwa “kejahatan genosida dan
        kejahatan terhadap manusia dalam ketentuan ini sesuai dengan
        Rome Statute o f the International Criminal Court (Pasal 6 dan Pasal
        7)”. Ketentuan ini memunculkan konsekuensi bahwa legal spirit,
        penafsiran, unsur-unsur maupun penerapannya harus mengikuti dan
        bersesuaian dengan ketentuan yang terdapat dalam Statuta ICC.
        Konsekuensi yuridisnya adalah bahwa pemahaman, penafsiran dan
        penerapan terhadap ketentuan hukum genosida dan kejahatan
        terhadap kemanusiaan dalam Statuta ICC secara tepat dan
        komprehensif harus melihat dan memahami berbagai
        ketentuan/pengaturan yang terdapat dalam statuta-statuta yang
        dihasilkan oleh ICC Ad Hoc pasca PD II yang menjadi sumber utama
        penyusunan Statuta ICC.51

               Dalam rangka memberikan landasan legalitas yang kuat,
        Pengadilan HAM membutuhkan UU yang memuat ketentuan hukum
       yang konkrit dan operasional yang dapat menjadi pedoman lengkap
       dan utuh dalam memeriksa dan mengadili kejahatan internasional
       (pelanggaran HAM), tidak cukup hanya sekedar menyebutkan
       kualifikasi tindak pidananya. UU Pengadilan HAM seyogianya juga
       mengatur unsur-unsur (khusus) dan umum dari kejahatan
       internasional (pelanggaran HAM). Selain itu, kriminalisasi kejahatan
       internasional (pelanggaran HAM) dalam UU Pengadilan HAM tidak
       hanya terbatas pada dua jenis kejahatan saja (genosida dan
       kejahatan terhadap kemanusiaan), tetapi juga kajahatan lain yang

         51 Zulkarnein Koto, Kejahatan Terhadap Kemanusiaan (Dari Keterbatasan
Substansi Hukum ke Kelemahan Penerapan Hukum ?), dalam Jurnal Studi Kepolisian,
Kejahatan HAM Berat, Edisi 066 Oktober-Desember 2005, Jakarta: PTIK-PPITK, 2005,
hlm. 99-100.
   8   9   10   11   12   13   14   15   16   17   18